
Selalu ada yang
bernyanyi dan berelegi
Di balik awan
hitam
Semoga ada yang
menerangi sisi gelap ini
Menanti,
Seperti pelangi
setia menunggu hujan reda
[Efek Rumah Kaca –
Desember]
Hari-hariku berjalan seperti biasa, senormal bangun di
pagi hari dan kembali ke kasur pukul 9. Hingga suatu saat aku dan seorang
kawanku mencoba untuk melakukan sebuah aktivitas yang disebut bermain. Terdapat
banyak pilihan, tapi pilihan kami jatuh pada permainan ular tangga dan puzzle.
Entah kenapa kami cukup tertarik dengan dua papan permainan tersebut. Oh ya,
sebenarnya kami tidak langsung bermain, kami hanya berdiri disitu memperhatikan
orang-orang yang telah bermain lebih dahulu dengan permainan-permainan tadi.
Kawanku berkata bahwa aku sebaiknya mencoba bermain
puzzle sementara ia bermain ular tangga, lagipula disitu juga sudah ada
beberapa orang sedang bermain dengan ular tangga tersebut. Aku tahu yang
diucapkannya hanya sebuah candaan karena kami sama-sama menikmati permainan
ular tangga tadi, walaupun puzzle di meja sebelah tak sedikitpun luput dari
perhatian kami. Aku pun iseng mencoba untuk merangkai puzzle. Keping demi
keping kusambungkan jadi satu, walaupun aku sendiri masih belum tahu gambar apa
yang akan dihasilkan puzzle tersebut.
Ada ruang hatiku
yang kau temukan
Sempat aku lupakan
kini kau sentuh
Aku bukan jatuh
cinta namun aku jatuh hati
[Raisa – Jatuh
Hati]
Aku tak tahu sejak kapan maupun apa sebabnya, tapi
lama-kelamaan aku sadar bahwa aku memang teramat menikmati permainan itu.
Bertingkah seperti hanya sekedar bermain untuk mengisi waktu, orang-orang tak
menyadari bahwa dalam hati aku benar-benar candu untuk menyatukan kepingan
puzzle tadi. Yah, setidaknya itu menurut padanganku. Aku tak tahu apakah sudah
ada diantara mereka yang mengetahui rahasia kecilku itu. Tapi aku tak peduli,
aku bertekad untuk tetap memainkan puzzle itu. Tak peduli jika ada segelintir
orang yang mengatakan bahwa permainan puzzle membosankan atau apalah.
Terlalu sibuk merangkai kepingan-kepingan puzzle,
sampai-sampai aku tak menyadari bahwa kamu sedari tadi memperhatikan. Atau
mungkin kamu memang memperhatikan semua orang yang sedang bermain di tempat
ini? Entahlah, aku tak mau berprasangka lebih jauh lagi. Aku merasa cukup
senang, puzzle yang kususun tinggal tersisa 3 keping.
Sekali lagi tanpa kusadari, tiba-tiba kamu sudah berada
di hadapanku. Kamu langsung membantuku menyelesaikan puzzle tadi. Hingga
tersisa kepingan terakhir dan aku pun mengerti bahwa ternyata kamu
menghampiriku karena di mejaku hanya ada 2 keping puzzle, dan kulihat tanganmu
menggenggam kepingan yang terakhir. Aku sangat senang. Kita nyaris
menyelesaikan puzzle itu.
Namun, keadaan seketika berubah. Nyaris sekali kamu
memasang kepingan tadi tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan kepingan
puzzle itu entah kemana.
Saat aku mencoba
merubah segalanya
Saat aku meratapi
kekalahanku
Aku ingin engkau
selalu ada
Aku ingin engkau
aku kenang
[D’Masiv – Merindukanmu]
Aku tak tahu apa kata yang tepat untuk mendeskripsikan
perasaanku saat hal itu terjadi. Orang-orang yang melihatnya mungkin akan
menyuruhku untuk bersyukur karena setidaknya puzzle-ku sudah hampir selesai.
Aku sedih. Mengapa kepingan terakhir itu belum sempat terpasang saat angin tadi
muncul? Mengapa harus seperti ini?
Kepingan yang kamu pegang adalah penentu apakah gambar
yang tercipta di rangkaian puzzle ini indah atau malah sebaliknya –tercipta
gambar yang suram. Melihat keseluruhan rangkaian puzzle yang belum lengkap
hanya akan membuatku menerka-nerka gambar apa yang akan dihasilkan, tanpa
memperoleh kepastian. Satu keping tadi dianggap orang lain tak perlu
dipikirkan, tapi, menurutku itu penting. Aku sedih. Juga bahagia. Bagiku saat
ini keduanya tak ada bedanya.
Aku melihatmu yang masih berdiri di hadapanku, terpaku
melihat kejadian tadi. Dengarlah, aku tak butuh ditenangkan. Aku tahu ini
egois, tapi aku ingin sekali mengetahui kepingan terakhir tadi, yang bahkan
belum sempat kusentuh ataupun kulihat gambarnya. Naasnya, yang bisa kulakukan
saat ini hanyalah berdoa. Aku mencoba mengikhlaskan kepingan itu tapi jujur tak
mampu kulakukan. Dalam lubuk hati yang terdalam aku masih berharap bahwa aku
akan menemukan kepingan tadi suatu saat. Mungkin saat aku berjalan di suatu
tempat lalu menemukannya? Haha.
Selama aku masih
bisa bernafas
Masih sanggup
berjalan
Ku kan selalu
memujamu
Meski ku tak tahu
lagi engkau ada dimana
[D’Masiv –
Merindukanmu]
Tak lama lagi ku yakin kamu akan berjalan pergi.
Menemukan kepingan puzzle lain lalu membantu orang yang membutuhkannya seperti
aku. Aku ingin memaksakan kehendakku tapi nyatanya tak kan pernah bisa. Puzzle
ini akan tetap berakhir seperti ini, nyaris lengkap namun tak pernah seutuhnya
selesai. Menyisakan pertanyaan, apakah memang akan tercipta gambaran indah atau
runyam? Atau hanya sebuah gambar biasa tanpa ada yang istimewa? Hm entahlah,
selamanya puzzle ini akan tetap samar. Lebih baik aku mengetahui bahwa puzzle
yang selama ini kususun susah payah tidak membentuk citra yang elok, daripada
aku harus terjebak dalam tebakan akan segala yang mungkin terjadi.
Kini tak ada terdengar
kabar dari dirimu
Kini kau telah
menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal
cerita antara kau dan aku
Namun satu yang
perlu engkau tahu
Api cintaku padamu
tak pernah padam
[Sandy Sandoro –
Tak Pernah Padam]
Seandainya. Ya, seandainya aku bisa menemukan kepingan
itu.
Rabu, 22 Juli 2015
– Ayaszki –
No comments:
Post a Comment