
Dan aku
pun bingung.
Kenapa
tiba-tiba blog ini dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang, entahlah, menggelikan?
Harus
kuakui, jika seseorang menggunakan perasaannya, ia mampu berubah menjadi anak
nyastra dalam sekejap.
Karena
mengungkapkan dengan tulisan terkadang lebih mudah daripada mengucap langsung.
Hehe
ketauan deh.
Sebagian
besar postingan yang kubuat akhir-akhir ini memang terinspirasi oleh sesuatu.
Atau
bisa dibilang, oleh seseorang.
Tidak
penting apakah orang tersebut beneran ada atau bisa jadi fiksional, namun
sosoknya selalu nyata dalam angan.
Aku bahkan tidak benar-benar paham apa yang aku
rasakan.
Tulisan-tulisan itu mengalir begitu saja, sama seperti
rasa ini yang tidak sengaja kubangun dan tumbuh begitu saja.
Sempat aku sampai di fase menyerah.
Sadar
diri, yas.
Berkali-kali otak menyerukan hal itu.
Yah, apa daya, esoknya aku kembali luluh. Secepat itu.
Secepat melihat sosoknya, nyata maupun maya.
Nahkan mulai keluar lagi alaynya.
Aku jadi teringat perkataan temanku suatu malam di
kedai kopi;
Rasa
itu anugerah, yas. Untuk mempertahankan rasa itu baru pilihan.
Hei, aku bahkan tidak pernah tahu kapan aku menentukan
‘pilihan’ itu.
Yang kutahu, aku masih bertahan.
Dengan kokoh, masih dengan rasa yang sama.
Bodoh? Silakan tentukan sendiri.
Jika angka probabilitas bisa di bawah 0, mungkin itulah
yang akan kudapat terhadap kisah ini.
Kisah tentang si pecinta hujan, yang tak kunjung
mendapat pelangi.
Ah, yasudahlah.
Masih banyak yang harus kutata dalam hidup ini.
Mungkin akal sehatku memang benar, aku harus mulai sadar
diri.
JATUH CINTA MEMBUAT PEMBOHONGAN IDENTITAS
ReplyDeleteMEMBUAT SEORANG FISIPOL MENJADI FIB
BUKU PENGANTAR POLITIK JADI BUKU SHAKESPEARE
BABY SHARK DUDUDUDUDU